Pin It
Improvisasi di dunia pendidikan saat ini mutlak perlu. Tidak hanya menjawab tantangan global, tetapi juga demi menyiapkan generasi yang life-ready. Dengan bantuan media digital, kelak proses belajar-mengajar tidak lagi monoton, justru lebih menyenangkan. Bahkan untuk ilmu eksakta sekalipun. Nah, salah satu yang sudah menerapkan improvisasi dalam proses belajar mengajar itu adalah Salman Khan, pendiri Khan Academy. Dari video yang di-upload di Youtube, anak-anak tidak hanya bisa belajar dari mana saja dengan cara yang lebih menyenangkan, tetapi juga sangat mudah dimengerti. Apalagi, ada juga pembelajaran Matematika dengan menggunakan game yang tentu menarik minta anak-anak untuk belajar sambil bermain.
Bagaimana dengan Indonesia? Dengan tingginya pengguna media digital di Indonesia, sebetulnya pembelajaran dengan metode Khan Academy tidak terlalu sulit untuk diterapkan.
“Sekarang ini, hampir setiap siswa boleh dibilang dapat menggunakan
internet. Namun apakah itu sudah dibarengi dengan tumbuhnya sikap kritis
atau pengetahuan tentang bagaimana mengolah informasi? Saya yakin belum
sepenuhnya ke arah situ,” ujar Razi Thalib, CEO dari Bridges & Balloons Digital Agency.
Para birokrat, guru, dan orangtua perlu mulai memberi ruang yang
cukup bagi siswa. Sebab selama ini, ada kecenderungan para pengambil
kebijakan dan pelaksana masih berusaha mempertahankan status quo;
dengan menghambat akses informasi atau mengangkat orang-orang yang
kualifikasinya dipertanyakan. Juga masih lazim terjadi, mereka tidak
memperkenankan adanya kritik yang muncul dari siswa dan menutup pintu
dialog. Padahal justru kedua hal itu sangat penting untuk mengembangkan
kemampuan berpikir kritis.
“Mau tidak mau, dengan berkembangnya dunia digital serta kemudahan
akses internet, siswa akan mendapatkan apapun yang mereka mau; termasuk
jenis informasi yang destruktif. Jadi, mereka perlu mendapat input
tentang itu dari pihak sekolah dan orangtua. Bukalah kesempatan
seluasnya bagi siswa untuk bertanya, mencoba, dan mengembangkan
kemampuan nalarnya. Jelaskan dengan logika dan standar moral secara
umum; serta hindari reaksi yang dogmatis, seperti melarang tanpa
penjelasan tuntas. Gunakan media digital untuk mempermudah proses
belajar-mengajar, dan membantu siswa mendapatkan informasi yang relevan
serta melakukan riset untuk tugas sekolah mereka,” ujar Razi.
Menurut Razi,
pendidikan adalah salah satu kunci untuk menghasilkan sebuah masyarakat
yang memiliki standar tinggi dalam suatu pencapaian. “Masyarakat
seperti itu yang akan membentuk kultur baru yang lebih sophisticated.
Sebuah kultur yang menghendaki kualitas terbaik dalam segala hal; baik
itu dalam hal bisnis, pemerintahan, maupun penyediaan layanan
masyarakat,” ujarnya.
Pemanfaatan media digital juga tidak sebatas pada kreativitas proses belajar-mengajar. Menurut Razi, media digital bisa juga dikembangkan menjadi sarana untuk mempermudah manajemen sekolah.
Misalnya, sekolah dapat merancang sistem digital yang memungkinkan siswa
dan guru mengisi buku absen secara online; yang digabung
dengan sistem pengecekan, agar orangtua bisa tahu apakah anaknya bolos
atau tidak. Atau misalnya, sekolah menyediakan sistem akses yang membuat
siswa dan orangtua bisa mendapatkan catatan rapor dan aktifivas mereka
setiap saat tanpa harus datang ke sekolah dan menjalani prosedur rumit.
“Itu akan menghemat banyak waktu serta praktis dalam hal
manajemennya. Juga memudahkan pihak sekolah maupun orangtua untuk segera
mengambil langkah jika menemukan ada kecenderungan prestasi siswa
menurun, atau ada masalah lain yang mengganggu interaksi mereka di
sekolah,” ungkap Razi, yang menjadikan utak-atik media digital sebagai
salah satu hal yang sangat digemarinya.
{leaf}
1 hour ago









