Monday, May 20, 2013

Improvisasi Dunia Pendidikan melalui Media Digital

at 2:25 PM 0 comment
Pin It Improvisasi di dunia pendidikan saat ini mutlak perlu. Tidak hanya menjawab tantangan global, tetapi juga demi menyiapkan generasi yang life-ready. Dengan bantuan media digital, kelak proses belajar-mengajar tidak lagi monoton, justru lebih menyenangkan. Bahkan untuk ilmu eksakta sekalipun. Nah, salah satu yang sudah menerapkan improvisasi dalam proses belajar mengajar itu adalah Salman Khan, pendiri Khan Academy. Dari video yang di-upload di Youtube, anak-anak tidak hanya bisa belajar dari mana saja dengan cara yang lebih menyenangkan, tetapi juga sangat mudah dimengerti. Apalagi, ada juga pembelajaran Matematika dengan menggunakan game yang tentu menarik minta anak-anak untuk belajar sambil bermain.

Bagaimana dengan Indonesia?  Dengan tingginya pengguna media digital di Indonesia, sebetulnya pembelajaran dengan metode Khan Academy tidak terlalu sulit untuk diterapkan. 
“Sekarang ini, hampir setiap siswa boleh dibilang dapat menggunakan internet. Namun apakah itu sudah dibarengi dengan tumbuhnya sikap kritis atau pengetahuan tentang bagaimana mengolah informasi? Saya yakin belum sepenuhnya ke arah situ,” ujar Razi Thalib, CEO dari Bridges & Balloons Digital Agency. 

Para birokrat, guru, dan orangtua perlu mulai memberi ruang yang cukup bagi siswa. Sebab selama ini, ada kecenderungan para pengambil kebijakan dan pelaksana masih berusaha mempertahankan status quo; dengan menghambat akses informasi atau mengangkat orang-orang yang kualifikasinya dipertanyakan. Juga masih lazim terjadi, mereka tidak memperkenankan adanya kritik yang muncul dari siswa dan menutup pintu dialog. Padahal justru kedua hal itu sangat penting untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis.

“Mau tidak mau, dengan berkembangnya dunia digital serta kemudahan akses internet, siswa akan mendapatkan apapun yang mereka mau; termasuk jenis informasi yang destruktif. Jadi, mereka perlu mendapat input tentang itu dari pihak sekolah dan orangtua. Bukalah kesempatan seluasnya bagi siswa untuk bertanya, mencoba, dan mengembangkan kemampuan nalarnya. Jelaskan dengan logika dan standar moral secara umum; serta hindari reaksi yang dogmatis, seperti melarang tanpa penjelasan tuntas. Gunakan media digital untuk mempermudah proses belajar-mengajar, dan membantu siswa mendapatkan informasi yang relevan serta melakukan riset untuk tugas sekolah mereka,” ujar Razi.

Menurut Razi, pendidikan adalah salah satu kunci untuk menghasilkan sebuah masyarakat yang memiliki standar tinggi dalam suatu pencapaian. “Masyarakat seperti itu yang akan membentuk kultur baru yang lebih sophisticated. Sebuah kultur yang menghendaki kualitas terbaik dalam segala hal; baik itu dalam hal bisnis, pemerintahan, maupun penyediaan layanan masyarakat,” ujarnya.

Pemanfaatan media digital juga tidak sebatas pada kreativitas proses belajar-mengajar. Menurut Razi, media digital bisa juga dikembangkan menjadi sarana untuk mempermudah manajemen sekolah. Misalnya, sekolah dapat merancang sistem digital yang memungkinkan siswa dan guru mengisi buku absen secara online; yang digabung dengan sistem pengecekan, agar orangtua bisa tahu apakah anaknya bolos atau tidak. Atau misalnya, sekolah menyediakan sistem akses yang membuat siswa dan orangtua bisa mendapatkan catatan rapor dan aktifivas mereka setiap saat tanpa harus datang ke sekolah dan menjalani prosedur rumit.

“Itu akan menghemat banyak waktu serta praktis dalam hal manajemennya. Juga memudahkan pihak sekolah maupun orangtua untuk segera mengambil langkah jika menemukan ada kecenderungan prestasi siswa menurun, atau ada masalah lain yang mengganggu interaksi mereka di sekolah,” ungkap Razi, yang menjadikan utak-atik media digital sebagai salah satu hal yang sangat digemarinya.

Friday, May 17, 2013

Media Digital dan Improvisasi Pendidikan di Indonesia

at 11:26 PM 0 comment
Pin It Pernahkah terbayang dalam benak, jika suatu saat penggunaan media digital dalam proses belajar-mengajar, berkembang lebih jauh daripada sekedar sebagai alat bantu mengajar? Media digital memiliki kelenturan nyaris tak terbatas. Penggunaannya bisa dirancang sedemikian rupa sesuai dengan tujuan serta kreativitas pemakainya. Untuk dunia pendidikan, media seperti ini adalah aset yang sangat berharga. Terutama karena pendidikan ditujukan untuk menghasilkan SDM berkualitas.
Menurut Razi Thalib, CEO dari Bridges & Balloons Digital Agency, pendidikan adalah salah satu kunci untuk menghasilkan sebuah masyarakat yang memiliki standar tinggi dalam suatu pencapaian. “Masyarakat seperti itu yang akan membentuk kultur baru yang lebih sophisticated. Sebuah kultur yang menghendaki kualitas terbaik dalam segala hal; baik itu dalam hal bisnis, pemerintahan, maupun penyediaan layanan masyarakat,” ujarnya.
Pria kelahiran tahun 1980 ini mengatakan lebih lanjut, bahwa media digital dapat dikembangkan menjadi sarana untuk mempermudah manajemen sekolah. Misalnya, sekolah dapat merancang sistem digital yang memungkinkan siswa dan guru mengisi buku absen secara online; yang digabung dengan sistem pengecekan, agar orangtua bisa tahu apakah anaknya bolos atau tidak. Atau misalnya, sekolah menyediakan sistem akses yang membuat siswa dan orangtua bisa mendapatkan catatan rapor dan aktifivas mereka setiap saat tanpa harus datang ke sekolah dan menjalani prosedur rumit.
“Itu akan menghemat banyak waktu serta praktis dalam hal manajemennya. Juga memudahkan pihak sekolah maupun orangtua untuk segera mengambil langkah jika menemukan ada kecenderungan prestasi siswa menurun, atau ada masalah lain yang mengganggu interaksi mereka di sekolah,” ungkap Razi, yang menjadikan utak-atik media digital sebagai salah satu hal yang sangat digemarinya.
Sekolah juga dapat mengembangkan media digital sebagai sarana menumbuhkan sikap kritis serta memperluas akses informasi dan ilmu pengetahuan bagi siswanya. “Sekarang ini, hampir setiap siswa boleh dibilang dapat menggunakan internet. Namun apakah itu sudah dibarengi dengan tumbuhnya sikap kritis atau pengetahuan tentang bagaimana mengolah informasi? Saya yakin belum sepenuhnya ke arah situ,” ujar Razi lagi.
Para birokrat, guru, dan orangtua perlu mulai memberi ruang yang cukup bagi siswa. Sebab selama ini, ada kecenderungan para pengambil kebijakan dan pelaksana masih berusaha mempertahankan status quo; dengan menghambat akses informasi atau mengangkat orang-orang yang kualifikasinya dipertanyakan. Juga masih lazim terjadi, mereka tidak memperkenankan adanya kritik yang muncul dari siswa dan menutup pintu dialog. Padahal justru kedua hal itu sangat penting untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis.
“Mau tidak mau, dengan berkembangnya dunia digital serta kemudahan akses internet, siswa akan mendapatkan apapun yang mereka mau; termasuk jenis informasi yang destruktif. Jadi, mereka perlu mendapat input tentang itu dari pihak sekolah dan orangtua. Bukalah kesempatan seluasnya bagi siswa untuk bertanya, mencoba, dan mengembangkan kemampuan nalarnya. Jelaskan dengan logika dan standar moral secara umum; serta hindari reaksi yang dogmatis, seperti melarang tanpa penjelasan tuntas. Gunakan media digital untuk mempermudah proses belajar-mengajar, dan membantu siswa mendapatkan informasi yang relevan serta melakukan riset untuk tugas sekolah mereka,” ujar Razi.

Mengoptimalkan Potensi Indonesia dalam Memanfaatkan Media Digital

at 7:20 AM 0 comment
Pin It


Fakta bahwa Indonesia termasuk negara dengan pengguna media digital yang cukup signifikan, terbukti  dari jumlah pengguna media sosial seperti Facebook dan Twitter tidak serta merta menunjukkan bahwa  masyarakat Indonesia sudah optimal memanfaatkan media digital. Apa pasal? Karena penggunaan media digital masih sebatas pada sosialisasi. Lembaga-lembaga penyedia layanan masyarakat, pendidikan, industri, dan bisnis, hampir bisa dibilang semuanya belum melek media digital. Kalaupun melek media digital, sebagian masih banyak yang tidak konsisten untuk terus meng-update informasi terbaru. Tidak ada kontinuitas untuk dikelola setiap saat.
“Salah satu penyebab utamanya adalah cara berpikir masyarakat yang belum banyak beranjak dari segi fungsi. Mereka lebih sering berpikir untuk sekadar menggunakan, meniru, atau mengikuti tren, tanpa mengeksplorasi penggunaan media digital lebih jauh,” ujar Razi Thalib, CEO Bridges and Balloons Digital Agency ini.
Menurut Razi, media digital seharusnya sudah difungsikan lebih jauh, misalnya untuk menyebarkan konten yang menjalin loyalitas, menghemat waktu, dan memberikan solusi untuk keperluan sehari-hari. “Sayang sekali jika kita hanya berhenti sekedar sebagai konsumen, tanpa memanfaatkan akses dan kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi digital untuk berkarya. Padahal potensi yang dimiliki negara ini sangat besar,” urai Razi lagi.
Apa yang disampaikan Razi tentu penting untuk direnungkan bersama. Karena para pelaku bisnis yang telah memanfaatkan media digital hanya terbatas untuk meraih pengunjung dan menjual produknya sebanyak mungkin. Belum banyak yang mengedukasi konsumen mengenai produknya. Memberi peluang kerja sama kepada orang kecil atau yang modalnya terbatas untuk turut berkecimpung dalam usahanya (sistem plasma). Atau yang tidak kalah penting adalah untuk personal branding seseorang melalui Personal Branding Agency. Nah, salah satu pihak yang mengkhususkan pada bidang personal branding adalah Indscript Creative


“Misalnya Anda punya produk berupa cokelat. Yang layak Anda lakukan selain menjualnya, adalah mengedukasi konsumen tentang produk itu. Bagaimana mengenali cokelat berkualitas tinggi, dari penampilan, aroma, dan rasanya. Lalu informasikan tentang konsep Fair-Trade, di mana para petani bisa menjual hasil kebun cokelat mereka dengan harga layak dan tidak dipermainkan oleh pasar. Ciptakan sebuah kesadaran, bahwa ada sisi lain dari bisnis Anda yang menyentuh aspek kemanusiaan atau lingkungan. Juga gambarkan mengapa sangat penting bagi konsumen untuk mendukung perusahaan yang memiliki idealisme, dan tidak semata-mata berbisnis,” ujar Razi.
Menurut Razi Thalib, kini sudah saatnya para pengguna media digital di Indonesia mengoptimalkan teknologi ini dalam berbagai aspek kehidupan. Tidak lagi sekadar sebagai pemakai, namun juga menggunakannya sebagai media untuk mengedukasi masyarakat, merubah cara berpikir, memberikan solusi, serta mendorong mereka ke arah perubahan yang lebih baik.
Bayangkan saja, dengan menempati peringkat ke-4 di dunia, dengan prosentase pengguna aktif mencapai hampir 20 persen dari total populasi dan sudah menobatkan Jakarta dan Bandung sebagai kota dengan pengguna Twitter terbesar nomor satu dan enam di dunia, merupakan potensi yang sangat kuat untuk mengoptimalkan penggunaan media digital demi kehidupan yang lebih baik.





Thursday, May 16, 2013

Bros Flanel

at 10:46 AM 0 comment
Pin It
Belajar bikin bros flanel atau felt untuk anak-anak ternyata menyenangkan.. Banyak yang suka. ^_^
Jadi tambah semangat untuk bikin lagi dan lagi. Ini contoh beberapa bros flanel yang saya buat.  Sederhana dan penuh warna. Sayangnya, banyak koleksi yang belum sempat difoto.. huhuhu..
Kalau ada yang berminat, monggo contact saya di ethie07@gmail.com
Happy crafting!

Tuesday, May 7, 2013

Mengapa Indonesia Harus Peduli Media Digital?

at 7:12 AM 0 comment
Pin It Indonesia termasuk negara dengan pengguna media digital yang cukup signifikan. Sebut saja dari segi jumlah pengguna media sosial seperti Facebook dan Twitter. Menurut SocialBakers, situs yang mengkhususkan diri untuk soal statistik media sosial, Indonesia menempati peringkat ke-4 di dunia, dengan prosentase pengguna aktif mencapai hampir 20 persen dari total populasi. Sedangkan untuk jumlah pengguna Twitter, Forbes (The World’s Most Active Twitter City? You Won’t Guess It, 30/12/2012) sudah menobatkan Jakarta dan Bandung sebagai kota dengan pengguna Twitter terbesar nomor satu dan enam di dunia.
Semua itu dimungkinkan berkat kemudahan akses internet dan teknologi digital lainnya, serta karakter masyarakat Indonesia yang cenderung sosial dan komunal. Dan dengan angka pengguna sarana digital sebesar itu, seharusnya perkembangan media digital di negara ini melesat cepat. Namun kenyataannya, media digital belum banyak dimanfaatkan untuk keperluan di luar ajang sosialisasi. Lembaga-lembaga penyedia layanan masyarakat, pendidikan, industri, dan bisnis, hampir bisa dibilang semuanya belum melek media digital.
“Salah satu penyebab utamanya adalah cara berpikir masyarakat yang belum banyak beranjak dari segi fungsi. Mereka lebih sering berpikir untuk sekadar menggunakan, meniru, atau mengikuti tren, tanpa mengeksplorasi penggunaan media digital lebih jauh,” ujar Razi Thalib, CEO Bridges and Balloons Digital Agency ini.
Menurut Razi, media digital seharusnya sudah difungsikan lebih jauh, misalnya untuk menyebarkan konten yang menjalin loyalitas, menghemat waktu, dan memberikan solusi untuk keperluan sehari-hari. “Sayang sekali jika kita hanya berhenti sekedar sebagai konsumen, tanpa memanfaatkan akses dan kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi digital untuk berkarya. Padahal potensi yang dimiliki negara ini sangat besar,” urai Razi lagi.
Penggunaan media digital oleh para pelaku bisnis saat ini kebanyakan hanya berhenti pada target sekadar untuk meraup jumlah pengunjung sebanyak mungkin. Jarang ada pemikiran lebih jauh, misalnya menggunakan desain dan konsep interaksi untuk mengubah pengunjung menjadi pembeli setia.
“Misalnya Anda punya produk berupa cokelat. Yang layak Anda lakukan selain menjualnya, adalah mengedukasi konsumen tentang produk itu. Bagaimana mengenali cokelat berkualitas tinggi, dari penampilan, aroma, dan rasanya. Lalu informasikan tentang konsep Fair-Trade, di mana para petani bisa menjual hasil kebun cokelat mereka dengan harga layak dan tidak dipermainkan oleh pasar. Ciptakan sebuah kesadaran, bahwa ada sisi lain dari bisnis Anda yang menyentuh aspek kemanusiaan atau lingkungan. Juga gambarkan mengapa sangat penting bagi konsumen untuk mendukung perusahaan yang memiliki idealisme, dan tidak semata-mata berbisnis,” ujar Razi.
Menurut Razi Thalib, kini sudah saatnya para pengguna media digital di Indonesia mengoptimalkan teknologi ini dalam berbagai aspek kehidupan. Tidak lagi sekadar sebagai pemakai, namun juga menggunakannya sebagai media untuk mengedukasi masyarakat, merubah cara berpikir, memberikan solusi, serta mendorong mereka ke arah perubahan yang lebih baik.

Monday, May 6, 2013

Memanfaatkan Teknologi Digital untuk Meningkatkan Kualitas Hidup

at 9:09 AM 0 comment
Pin It
Rasanya tidak berlebihan jika Razi Thalib, pendiri agensi digital bernama Bridges & Balloons Digital Agency (BBDA), menyatakan bahwa nyaris tidak ada satu pun aspek kehidupan yang tidak tersentuh oleh sarana digital. “Mulai dari urusan kantor, rekreasi, kehidupan sosial, keluarga, pendidikan, bisnis, keuangan… apapun. Semuanya tak lepas dari penggunaan teknologi digital,” ujar Razi.
Bahkan urusan mencari jodoh atau pasangan pun dilakukan melalui teknologi digigtal. Razi yang melihat teknologi digital untuk mempermudah kehidupan manusian pun meluncurkan situs pencarian pasangan hidup Setipe.Com.

“Bayangkan jika tidak ada kamera digital, misalnya. Tentu sampai sekarang kita masih terus disibukkan dengan urusan cuci-cetak film di kamar gelap, lalu mengirim foto cetak melalui jasa pos yang makan waktu. Dengan teknologi digital, semua tahapan rumit itu dibuat menjadi mudah. Bahkan urusan editing foto sekalipun, bisa dilakukan secara digital. Kita bisa menghemat waktu dan menggunakannya untuk kegiatan produktif lainnya.”
Apalagi, saat ini, untuk memanfaatkan teknologi digital bisa dilakukan dengan cara mudah dan murah. Ya, barang-barang digital saat ini bukan lagi barang yang terlalu mewah. Dengan kemudahan dan 'kemurahan' yang melekat pada teknologi digital, artinya kesempatan untuk menggunakan media digital secara kreatif pun semakin terbuka lebar. “Kita bisa menciptakan ruang untuk saling berkomunikasi dengan lebih leluasa, lebih cepat, dan lebih berarti. Kita juga bisa menggunakannya untuk meningkatkan volume penjualan, merespon permintaan konsumen dengan lebih baik, dan juga untuk meningkatkan kesejahteraan hidup. Pendek kata, semakin masyarakat paham bagaimana memanfaatkan teknologi digital dengan cara yang tepat, maka peluang untuk meningkatkan kualitas hidup semakin besar,” kata Razi pada Indiscript Creative sebuah perusahaan personal branding agency

Saturday, April 27, 2013

Hidup Semakin Mudah Berkat Teknologi Digital

at 12:56 AM 0 comment
Pin It Pernahkah Anda membayangkan hidup di zaman dulu, kembali lagi ke beberapa puluh tahun silam? Segala sesuatu saat itu serba manual. Dan kalaupun ada sarana digital, penggunaannya boleh dikata belum sedahsyat sekarang. Sekitar tahun 1980 hingga 1990-an, teknologi digital yang digunakan di Indonesia mungkin masih terbatas pada kalkulator, radio, televisi, dan komputer dengan pengguna yang sangat terbatas. Namun kini, penggunaannya semakin pesat, seiring dengan semakin meningkatnya laju perkembangan teknologi tersebut.
Razi Thalib, pendiri agensi digital bernama Bridges & Balloons Digital Agency (BBDA), mengatakan bahwa nyaris tidak ada satu pun aspek kehidupan yang tidak tersentuh oleh sarana digital. “Mulai dari urusan kantor, rekreasi, kehidupan sosial, keluarga, pendidikan, bisnis, keuangan… apapun. Semuanya tak lepas dari penggunaan teknologi digital,” ujarnya.
Pria yang baru saja meluncurkan situs pencarian pasangan hidup Setipe.Com ini mengatakan, bahwa sebenarnya teknologi digital tercipta untuk mempermudah segala urusan dalam hidup manusia. “Bayangkan jika tidak ada kamera digital, misalnya. Tentu sampai sekarang kita masih terus disibukkan dengan urusan cuci-cetak film di kamar gelap, lalu mengirim foto cetak melalui jasa pos yang makan waktu. Dengan teknologi digital, semua tahapan rumit itu dibuat menjadi mudah. Bahkan urusan editing foto sekalipun, bisa dilakukan secara digital. Kita bisa menghemat waktu dan menggunakannya untuk kegiatan produktif lainnya.”
Kenyamanan yang ditawarkan oleh teknologi digital, kini semakin mudah didapatkan berkat harganya yang kian hari kian terjangkau. Komputer bukan lagi barang yang terlalu mewah. Demikian pula cellphone, internet, televisi, sekarang bisa dibeli dengan mudah. Setiap orang bisa membuat akun jejaring sosial kapan saja.
Kemudahan tersebut juga berimbas pada semakin terbukanya kesempatan untuk menggunakan media digital secara kreatif. “Kita bisa menciptakan ruang untuk saling berkomunikasi dengan lebih leluasa, lebih cepat, dan lebih berarti. Kita juga bisa menggunakannya untuk meningkatkan volume penjualan, merespon permintaan konsumen dengan lebih baik, dan juga untuk meningkatkan kesejahteraan hidup. Pendek kata, semakin masyarakat paham bagaimana memanfaatkan teknologi digital dengan cara yang tepat, maka peluang untuk meningkatkan kualitas hidup semakin besar,” kata Razi.

Thursday, April 11, 2013

Razi Thalib dan Dunia Digitalnya

at 9:04 AM 0 comment
Pin It
Suasana di kedai Starbucks pagi itu sudah cukup ramai, meski saya datang terlalu pagi, setengah delapan pagi. Saya sedang menunggu seseorang sambil asyik dengan berbagai aktivitas menulis. Sekira jam sembilan, mata saya tertohok pada satu lelaki yang berjalan ke arah pintu masuk Starbucks. Saya sudah yakin pasti dialah yang saya tunggu. Razi Thalib, nama sosok itu, membalas senyum yang saya lempar untuknya, dan melangkah mendekati tempat saya duduk.

Sejenak kemudian, lelaki muda itu mulai berbagi cerita, tentang dirinya yang baru tiga tahun tinggal di Indonesia, setelah sebelumnya sukses berkarir di luar negeri. Ia banyak membagi pengalaman dan kecintaannya dalam bidang Digital Engagement. Razi Thalib adalah seorang konsultan dan pengusaha, dengan pengalaman tujuh tahun di industri media digital di Australia, khususnya untuk bidang Manajemen Produk, Strategi, dan Pemasaran. Razi memutuskan untuk kembali ke Indonesia, karena merasa negara tempatnya dilahirkan memiliki peluang besar untuk berkembang.

“Bidang Media Digital memiliki prospek sangat bagus di sini, dan saya ingin berbagi lebih banyak tentang pentingnya pemahaman media digital untuk membangun sebuah bisnis dalam jangka panjang,” ujar Razi pada Indiscript Creative. Pendiri dan pemilik Bridges and Balloons, sebuah agensi media digital di Jakarta, menyediakan sarana pendukung penuh, terutama bagi para pebisnis pemula. Dengan ditopang oleh sumber daya yang handal, agensi media digital ini membantu para pemilik bisnis untuk bisa mengembangkan bisnisnya secara positif melalui penggunaan teknologi digital.

Bagi Razi sendiri, pilihannya untuk menjadi entrepreneur diawali oleh keinginannya untuk intens dan fokus pada dunia digital. Setelah sukses membangun sistem media digital bagi Zalora Indonesia dan meningkatkan pertumbuhannya hingga 40% dalam waktu setahun, Razi mulai menoleh pada peluang untuk mengembangkan proyek-proyek yang menarik perhatiannya. “Saya ingin mengerjakan proyek-proyek yang saya senangi, dan mengembangkan sistem digitalnya agar bisa berkembang terus dalam jangka panjang,” ujar Razi yang dari ke hari personal brandingnya semakin menanjak melalui Indiscript Creative sebuah perusahaan personal branding agency

Sejumlah proyek yang sukses dia tangani antara lain adalah proyek pembuatan media digital bagi “Gerakan Indonesia Mengajar”. GIM adalah program untuk mengisi kebutuhan dalam dunia pendidikan, khususnya bagi anak-anak yang tinggal di pelosok yang tak terjangkau fasilitas sekolah dan guru yang memadai. Dengan dukungan sarana digital yang diciptakan oleh Razi, program ini semakin sukses dalam mengembangkan misinya untuk menyediakan materi pendidikan dan tenaga pengajar berkualitas tinggi bagi anak Indonesia.

Salah satu kiat Razi dalam mengembangkan sebuah bisnis melalui dukungan perangkat sistem digital, adalah dengan menggunakan konten yang rinci, namun sekaligus mudah dicerna dan menyenangkan. Konten yang disukai pelanggan, menurut Razi, adalah yang mampu menyajikan hal serius menjadi ringan dan menarik tanpa kehilangan esensinya. “Kalau kontennya fun, para pelanggan dengan senang hati akan share, twit, klik “Like”, join, komen, dan sebagainya. Termasuk tentu saja membeli produk dengan wajah penuh senyuman. Oh ya, saya juga sekarang sedang mengembangkan www.setipe.com, bagi Anda yang sedang mencari jodoh, bisa mengakses situs ini,” tutur Razi Thalib di akhir percakapan bersama Indiscript Creative yang bergerak di bidang Personal Branding Agency.

Picture taken from here. 

Tuesday, April 9, 2013

Membangun Industri Media Digital Bersama Razi Thalib

at 3:57 PM 1 comment
Pin It
Tahukah Anda sosok di belakang layar yang telah menyukseskan Gerakan Indonesia Mengajar (GIM) melalui dunia digital? Dialah Razi Thalib. Seorang lelaki muda yang sudah berkarier selama tujuh tahun di dunia digital Australia. Razi bergabung dengan GIM pada Oktober 2010. Saat ini, Razi memimpin konseptualisasi, pengembangan dan implementasi sistem registrasi, website dan software operasi GIM.

Tidak hanya sampai di situ. Sepulang dari Australia pun, lelaki muda yang bergelar sarjana Teknologi Informasi dari Charles Sturt University, Australia pada tahun 2003 ini mendirikan sebuah agensi media digital di Jakarta yang bernama bridges and balloons. Di agensi media digital inilah Razi memadukan talenta terbaik industri digital lokal dan internasional. Dengan ditopang oleh sumber daya yang handal, agensi media digital ini membantu para pemilik bisnis untuk bisa mengembangkan bisnisnya secara positif ataupun melalui penggunaan teknologi digital.

Razi boleh saja baru tiga tahun kembali ke Indonesia, akan tetapi keinginannya untuk menjadi entrepreneur patut diacungi jempol.Tentu saja, keinginannya menjadi entreprenuer di bidang agensi media digital itu karena Razi intens dan fokus pada dunia digital. Tidak hanya sukses dengan GIM, Razi pun sukses membangun sistem untuk Zalora Indonesia. Bahkan, saat ini, Razi pun tengah mengembangkan www.setipe.com. Sebuah situs untuk Anda yang sedang mencari jodoh. Pencapaiannya di dunia digital ini pun berbuah manis karena namanya semakin dikenal sebagai personal branding yang oke seperti yang dikemukakan Indiscript Creative sebuah perusahaan Personal Branding Agency pertama di Indonesia.

Razi juga membagi kiat suksesnya dalam mengembangkan sebuah bisnis melalui dukungan perangkat sistem digital, yakni dengan menggunakan konten yang rinci, namun sekaligus mudah dicerna dan menyenangkan. Konten yang disukai pelanggan, menurut Razi, adalah yang mampu menyajikan hal serius menjadi ringan dan menarik tanpa kehilangan esensinya. “Kalau kontennya fun, para pelanggan dengan senang hati akan share, twit, klik “Like”, join, komen, dan sebagainya,"tutur Razi Thalib saat ditemui Indscript Creative.

Bagi pembaca yang ingin tahu lebih banyak tentang Razi Thalib, saya cuplikan beberapa artikel tentang Razi yah..

Razi kembali ke Indonesia setelah 7 tahun berkarir di industri media digital Australia. Ia berpengalaman memimpin pengembangan produk2 digital dari pematangan ide sampai peluncuran dan pemasaran.

Sepulangnya ke Jakarta ia mendirikan maskapai konsultasi bernama bridges and balloons yang digunakannya untuk berkolaborasi dengan talenta terbaik industri digital lokal dan internasional. Ia meyakini pentingnya pendidikan dalam mengangkat ekspektasi pengguna untuk meningkatkan kompetisi dan mendorong layanan produk lokal yang berstandar global.

Razi bergabung dengan Gerakan Indonesia Mengajar pada bulan Oktober 2010 dan saat ini memimpin konseptualisasi, pengembangan dan implementasi sistem registrasi, website dan software operasi GIM.

Razi mendapatkan gelar sarjana Teknologi Informasi dari Charles Sturt University, Australia pada tahun 2003.
Cuplikan lainnya..

Dirinya baru tiga tahun tinggal di Indonesia, setelah sebelumnya sukses berkarir di luar negeri di bidang Digital Engagement. Ia adalah seorang konsultan dan pengusaha, dengan pengalaman tujuh tahun di industri media digital di Australia, khususnya untuk bidang Manajemen Produk, Strategi, dan Pemasaran.
Pendiri dan pemilik “Bridges and Balloons”, sebuah agensi media digital di Jakarta, menyediakan sarana pendukung penuh, terutama bagi para pebisnis pemula. Dengan ditopang oleh sumber daya yang handal, agensi media digital ini membantu para pemilik bisnis untuk bisa mengembangkan bisnisnya secara positif melalui penggunaan teknologi digital. Pilihannya untuk menjadi entrepreneur diawali oleh keinginannya untuk intens dan fokus pada dunia digital.

(Sumber:http://www.indscriptcreative.com/klien/personal-branding-agency/razi-thalib/)

Picture taken from here.

Wednesday, March 13, 2013

Ketika Harga Bawang Naik.. Plis, Jangan Impor!

at 2:02 PM 0 comment
Pin It

Beberapa hari terakhir ini  banyak kalangan yang dihebohkan dengan harga duo bawang; bawang putih dan bawang merah. Harga dua komoditas ini terus meroket dari hari ke hari. Tapi saya tidak ingin menyinggung soal bawang putih karena tidak tahu seluk beluk penjualannya. Saya hanya ingin membahas si bawang merah.

Minggu lalu, sekitar awal Maret 2013, harga bawang merah di tingkat produsen (petani) masih berkisar Rp15 ribu sampai Rp20 ribu per kg. Dengan harga segitu, petani sudah bahagia luar biasa. Gembira tak terkira. Betapa tidak? Lebih dari dua tahun harga bawang merah selalu di bawah rata-rata dan teramat jauh dari harapan para petani. Tiba-tiba saja, awal Maret 2013 harganya melambung bak balon udara. Siapa tidak gembira? Tapi berapa banyak petani yang gembira? Tentu, tidak semua petani. Karena tidak semua petani panen, tidak semua petani menanam bawang merah..

Gagal panen karena banjir dan hama, ditambah dengan harga yang selalu merosot selama dua tahun lebih telah menyusutkan semangat petani, memupus harapan petani, hingga nyaris putus asa. Hanya petani yang benar-benar menggantungkan hidupnya pada bawang merah sajalah yang masih bertahan. Atau petani yang masih memiliki modal sajalah yang mampu untuk menanam kembali, meski berulang kali 'jatuh'.

Dua tahun lebih, harga bawang merah tidak sampai Rp10 ribu per kg di tingkat petani. "Kalaupun ada, itu adalah bawang merang yang kualitas bagus. Yang besar-besar," begitu tutur ibu saya. Bahkan pernah, ibu saya menjual bawang merah dengan harga Rp3.000 per kg! Satu kuintal cuma dapat uang Rp300 ribu. Percaya tidak percaya, tapi begitulah faktanya.
Apakah pemerintah tahu soal ini? Apakah konsumen di luar Brebes mengerti kondisi ini?
Karena kondisi inilah banyak petani yang beralih minat. Mereka tidak lagi menanam bawang merah, tapi padi. Ya, setidaknya padi bisa dijadikan nasi. Kalau bawang merah? Disimpan lama-lama pun hanya akan membusuk tak ada manfaatnya.

Dengan meroketnya harga bawang merah, pedagang dan konsumen berteriak, pemerintah berupaya mencari solusi, dan pada akhirnya.. muara dari semua ini adalah akan ada yang mengiming-imingi untuk kembali mengimpor bawang merah dari luar negeri. Dengan dalih petani tidak konsisten, petani dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan yang ada, petani belum.... Betapa oh betapa...
Pemberhentian impor bawang merah ini bukannya baru saja? Tidak bisakah membiarkan petani bahagia barang dua-tiga bulan untuk menikmati harga setelah dua tahun lebih dilanda duka nestapa?? Tidak bisakah menunggu stabilisasi harga bawang merah di panen berikutnya yang hanya butuh waktu tidak sampai dua bulan? Apakah harus selalu impor dan impor lagi??
Kalau demikian adanya, bisa jadi, dua tahun dari sekarang harga bawang merah di tingkat petani akan kembali ke asalnya.. Yakni, hanya Rp3.000 per kg!!

Improvisasi Dunia Pendidikan melalui Media Digital

Improvisasi di dunia pendidikan saat ini mutlak perlu. Tidak hanya menjawab tantangan global, tetapi juga demi menyiapkan generasi yang life-ready. Dengan bantuan media digital, kelak proses belajar-mengajar tidak lagi monoton, justru lebih menyenangkan. Bahkan untuk ilmu eksakta sekalipun. Nah, salah satu yang sudah menerapkan improvisasi dalam proses belajar mengajar itu adalah Salman Khan, pendiri Khan Academy. Dari video yang di-upload di Youtube, anak-anak tidak hanya bisa belajar dari mana saja dengan cara yang lebih menyenangkan, tetapi juga sangat mudah dimengerti. Apalagi, ada juga pembelajaran Matematika dengan menggunakan game yang tentu menarik minta anak-anak untuk belajar sambil bermain.

Bagaimana dengan Indonesia?  Dengan tingginya pengguna media digital di Indonesia, sebetulnya pembelajaran dengan metode Khan Academy tidak terlalu sulit untuk diterapkan. 
“Sekarang ini, hampir setiap siswa boleh dibilang dapat menggunakan internet. Namun apakah itu sudah dibarengi dengan tumbuhnya sikap kritis atau pengetahuan tentang bagaimana mengolah informasi? Saya yakin belum sepenuhnya ke arah situ,” ujar Razi Thalib, CEO dari Bridges & Balloons Digital Agency. 

Para birokrat, guru, dan orangtua perlu mulai memberi ruang yang cukup bagi siswa. Sebab selama ini, ada kecenderungan para pengambil kebijakan dan pelaksana masih berusaha mempertahankan status quo; dengan menghambat akses informasi atau mengangkat orang-orang yang kualifikasinya dipertanyakan. Juga masih lazim terjadi, mereka tidak memperkenankan adanya kritik yang muncul dari siswa dan menutup pintu dialog. Padahal justru kedua hal itu sangat penting untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis.

“Mau tidak mau, dengan berkembangnya dunia digital serta kemudahan akses internet, siswa akan mendapatkan apapun yang mereka mau; termasuk jenis informasi yang destruktif. Jadi, mereka perlu mendapat input tentang itu dari pihak sekolah dan orangtua. Bukalah kesempatan seluasnya bagi siswa untuk bertanya, mencoba, dan mengembangkan kemampuan nalarnya. Jelaskan dengan logika dan standar moral secara umum; serta hindari reaksi yang dogmatis, seperti melarang tanpa penjelasan tuntas. Gunakan media digital untuk mempermudah proses belajar-mengajar, dan membantu siswa mendapatkan informasi yang relevan serta melakukan riset untuk tugas sekolah mereka,” ujar Razi.

Menurut Razi, pendidikan adalah salah satu kunci untuk menghasilkan sebuah masyarakat yang memiliki standar tinggi dalam suatu pencapaian. “Masyarakat seperti itu yang akan membentuk kultur baru yang lebih sophisticated. Sebuah kultur yang menghendaki kualitas terbaik dalam segala hal; baik itu dalam hal bisnis, pemerintahan, maupun penyediaan layanan masyarakat,” ujarnya.

Pemanfaatan media digital juga tidak sebatas pada kreativitas proses belajar-mengajar. Menurut Razi, media digital bisa juga dikembangkan menjadi sarana untuk mempermudah manajemen sekolah. Misalnya, sekolah dapat merancang sistem digital yang memungkinkan siswa dan guru mengisi buku absen secara online; yang digabung dengan sistem pengecekan, agar orangtua bisa tahu apakah anaknya bolos atau tidak. Atau misalnya, sekolah menyediakan sistem akses yang membuat siswa dan orangtua bisa mendapatkan catatan rapor dan aktifivas mereka setiap saat tanpa harus datang ke sekolah dan menjalani prosedur rumit.

“Itu akan menghemat banyak waktu serta praktis dalam hal manajemennya. Juga memudahkan pihak sekolah maupun orangtua untuk segera mengambil langkah jika menemukan ada kecenderungan prestasi siswa menurun, atau ada masalah lain yang mengganggu interaksi mereka di sekolah,” ungkap Razi, yang menjadikan utak-atik media digital sebagai salah satu hal yang sangat digemarinya.

Media Digital dan Improvisasi Pendidikan di Indonesia

Pernahkah terbayang dalam benak, jika suatu saat penggunaan media digital dalam proses belajar-mengajar, berkembang lebih jauh daripada sekedar sebagai alat bantu mengajar? Media digital memiliki kelenturan nyaris tak terbatas. Penggunaannya bisa dirancang sedemikian rupa sesuai dengan tujuan serta kreativitas pemakainya. Untuk dunia pendidikan, media seperti ini adalah aset yang sangat berharga. Terutama karena pendidikan ditujukan untuk menghasilkan SDM berkualitas.
Menurut Razi Thalib, CEO dari Bridges & Balloons Digital Agency, pendidikan adalah salah satu kunci untuk menghasilkan sebuah masyarakat yang memiliki standar tinggi dalam suatu pencapaian. “Masyarakat seperti itu yang akan membentuk kultur baru yang lebih sophisticated. Sebuah kultur yang menghendaki kualitas terbaik dalam segala hal; baik itu dalam hal bisnis, pemerintahan, maupun penyediaan layanan masyarakat,” ujarnya.
Pria kelahiran tahun 1980 ini mengatakan lebih lanjut, bahwa media digital dapat dikembangkan menjadi sarana untuk mempermudah manajemen sekolah. Misalnya, sekolah dapat merancang sistem digital yang memungkinkan siswa dan guru mengisi buku absen secara online; yang digabung dengan sistem pengecekan, agar orangtua bisa tahu apakah anaknya bolos atau tidak. Atau misalnya, sekolah menyediakan sistem akses yang membuat siswa dan orangtua bisa mendapatkan catatan rapor dan aktifivas mereka setiap saat tanpa harus datang ke sekolah dan menjalani prosedur rumit.
“Itu akan menghemat banyak waktu serta praktis dalam hal manajemennya. Juga memudahkan pihak sekolah maupun orangtua untuk segera mengambil langkah jika menemukan ada kecenderungan prestasi siswa menurun, atau ada masalah lain yang mengganggu interaksi mereka di sekolah,” ungkap Razi, yang menjadikan utak-atik media digital sebagai salah satu hal yang sangat digemarinya.
Sekolah juga dapat mengembangkan media digital sebagai sarana menumbuhkan sikap kritis serta memperluas akses informasi dan ilmu pengetahuan bagi siswanya. “Sekarang ini, hampir setiap siswa boleh dibilang dapat menggunakan internet. Namun apakah itu sudah dibarengi dengan tumbuhnya sikap kritis atau pengetahuan tentang bagaimana mengolah informasi? Saya yakin belum sepenuhnya ke arah situ,” ujar Razi lagi.
Para birokrat, guru, dan orangtua perlu mulai memberi ruang yang cukup bagi siswa. Sebab selama ini, ada kecenderungan para pengambil kebijakan dan pelaksana masih berusaha mempertahankan status quo; dengan menghambat akses informasi atau mengangkat orang-orang yang kualifikasinya dipertanyakan. Juga masih lazim terjadi, mereka tidak memperkenankan adanya kritik yang muncul dari siswa dan menutup pintu dialog. Padahal justru kedua hal itu sangat penting untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis.
“Mau tidak mau, dengan berkembangnya dunia digital serta kemudahan akses internet, siswa akan mendapatkan apapun yang mereka mau; termasuk jenis informasi yang destruktif. Jadi, mereka perlu mendapat input tentang itu dari pihak sekolah dan orangtua. Bukalah kesempatan seluasnya bagi siswa untuk bertanya, mencoba, dan mengembangkan kemampuan nalarnya. Jelaskan dengan logika dan standar moral secara umum; serta hindari reaksi yang dogmatis, seperti melarang tanpa penjelasan tuntas. Gunakan media digital untuk mempermudah proses belajar-mengajar, dan membantu siswa mendapatkan informasi yang relevan serta melakukan riset untuk tugas sekolah mereka,” ujar Razi.

Mengoptimalkan Potensi Indonesia dalam Memanfaatkan Media Digital




Fakta bahwa Indonesia termasuk negara dengan pengguna media digital yang cukup signifikan, terbukti  dari jumlah pengguna media sosial seperti Facebook dan Twitter tidak serta merta menunjukkan bahwa  masyarakat Indonesia sudah optimal memanfaatkan media digital. Apa pasal? Karena penggunaan media digital masih sebatas pada sosialisasi. Lembaga-lembaga penyedia layanan masyarakat, pendidikan, industri, dan bisnis, hampir bisa dibilang semuanya belum melek media digital. Kalaupun melek media digital, sebagian masih banyak yang tidak konsisten untuk terus meng-update informasi terbaru. Tidak ada kontinuitas untuk dikelola setiap saat.
“Salah satu penyebab utamanya adalah cara berpikir masyarakat yang belum banyak beranjak dari segi fungsi. Mereka lebih sering berpikir untuk sekadar menggunakan, meniru, atau mengikuti tren, tanpa mengeksplorasi penggunaan media digital lebih jauh,” ujar Razi Thalib, CEO Bridges and Balloons Digital Agency ini.
Menurut Razi, media digital seharusnya sudah difungsikan lebih jauh, misalnya untuk menyebarkan konten yang menjalin loyalitas, menghemat waktu, dan memberikan solusi untuk keperluan sehari-hari. “Sayang sekali jika kita hanya berhenti sekedar sebagai konsumen, tanpa memanfaatkan akses dan kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi digital untuk berkarya. Padahal potensi yang dimiliki negara ini sangat besar,” urai Razi lagi.
Apa yang disampaikan Razi tentu penting untuk direnungkan bersama. Karena para pelaku bisnis yang telah memanfaatkan media digital hanya terbatas untuk meraih pengunjung dan menjual produknya sebanyak mungkin. Belum banyak yang mengedukasi konsumen mengenai produknya. Memberi peluang kerja sama kepada orang kecil atau yang modalnya terbatas untuk turut berkecimpung dalam usahanya (sistem plasma). Atau yang tidak kalah penting adalah untuk personal branding seseorang melalui Personal Branding Agency. Nah, salah satu pihak yang mengkhususkan pada bidang personal branding adalah Indscript Creative


“Misalnya Anda punya produk berupa cokelat. Yang layak Anda lakukan selain menjualnya, adalah mengedukasi konsumen tentang produk itu. Bagaimana mengenali cokelat berkualitas tinggi, dari penampilan, aroma, dan rasanya. Lalu informasikan tentang konsep Fair-Trade, di mana para petani bisa menjual hasil kebun cokelat mereka dengan harga layak dan tidak dipermainkan oleh pasar. Ciptakan sebuah kesadaran, bahwa ada sisi lain dari bisnis Anda yang menyentuh aspek kemanusiaan atau lingkungan. Juga gambarkan mengapa sangat penting bagi konsumen untuk mendukung perusahaan yang memiliki idealisme, dan tidak semata-mata berbisnis,” ujar Razi.
Menurut Razi Thalib, kini sudah saatnya para pengguna media digital di Indonesia mengoptimalkan teknologi ini dalam berbagai aspek kehidupan. Tidak lagi sekadar sebagai pemakai, namun juga menggunakannya sebagai media untuk mengedukasi masyarakat, merubah cara berpikir, memberikan solusi, serta mendorong mereka ke arah perubahan yang lebih baik.
Bayangkan saja, dengan menempati peringkat ke-4 di dunia, dengan prosentase pengguna aktif mencapai hampir 20 persen dari total populasi dan sudah menobatkan Jakarta dan Bandung sebagai kota dengan pengguna Twitter terbesar nomor satu dan enam di dunia, merupakan potensi yang sangat kuat untuk mengoptimalkan penggunaan media digital demi kehidupan yang lebih baik.





Bros Flanel


Belajar bikin bros flanel atau felt untuk anak-anak ternyata menyenangkan.. Banyak yang suka. ^_^
Jadi tambah semangat untuk bikin lagi dan lagi. Ini contoh beberapa bros flanel yang saya buat.  Sederhana dan penuh warna. Sayangnya, banyak koleksi yang belum sempat difoto.. huhuhu..
Kalau ada yang berminat, monggo contact saya di ethie07@gmail.com
Happy crafting!

Mengapa Indonesia Harus Peduli Media Digital?

Indonesia termasuk negara dengan pengguna media digital yang cukup signifikan. Sebut saja dari segi jumlah pengguna media sosial seperti Facebook dan Twitter. Menurut SocialBakers, situs yang mengkhususkan diri untuk soal statistik media sosial, Indonesia menempati peringkat ke-4 di dunia, dengan prosentase pengguna aktif mencapai hampir 20 persen dari total populasi. Sedangkan untuk jumlah pengguna Twitter, Forbes (The World’s Most Active Twitter City? You Won’t Guess It, 30/12/2012) sudah menobatkan Jakarta dan Bandung sebagai kota dengan pengguna Twitter terbesar nomor satu dan enam di dunia.
Semua itu dimungkinkan berkat kemudahan akses internet dan teknologi digital lainnya, serta karakter masyarakat Indonesia yang cenderung sosial dan komunal. Dan dengan angka pengguna sarana digital sebesar itu, seharusnya perkembangan media digital di negara ini melesat cepat. Namun kenyataannya, media digital belum banyak dimanfaatkan untuk keperluan di luar ajang sosialisasi. Lembaga-lembaga penyedia layanan masyarakat, pendidikan, industri, dan bisnis, hampir bisa dibilang semuanya belum melek media digital.
“Salah satu penyebab utamanya adalah cara berpikir masyarakat yang belum banyak beranjak dari segi fungsi. Mereka lebih sering berpikir untuk sekadar menggunakan, meniru, atau mengikuti tren, tanpa mengeksplorasi penggunaan media digital lebih jauh,” ujar Razi Thalib, CEO Bridges and Balloons Digital Agency ini.
Menurut Razi, media digital seharusnya sudah difungsikan lebih jauh, misalnya untuk menyebarkan konten yang menjalin loyalitas, menghemat waktu, dan memberikan solusi untuk keperluan sehari-hari. “Sayang sekali jika kita hanya berhenti sekedar sebagai konsumen, tanpa memanfaatkan akses dan kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi digital untuk berkarya. Padahal potensi yang dimiliki negara ini sangat besar,” urai Razi lagi.
Penggunaan media digital oleh para pelaku bisnis saat ini kebanyakan hanya berhenti pada target sekadar untuk meraup jumlah pengunjung sebanyak mungkin. Jarang ada pemikiran lebih jauh, misalnya menggunakan desain dan konsep interaksi untuk mengubah pengunjung menjadi pembeli setia.
“Misalnya Anda punya produk berupa cokelat. Yang layak Anda lakukan selain menjualnya, adalah mengedukasi konsumen tentang produk itu. Bagaimana mengenali cokelat berkualitas tinggi, dari penampilan, aroma, dan rasanya. Lalu informasikan tentang konsep Fair-Trade, di mana para petani bisa menjual hasil kebun cokelat mereka dengan harga layak dan tidak dipermainkan oleh pasar. Ciptakan sebuah kesadaran, bahwa ada sisi lain dari bisnis Anda yang menyentuh aspek kemanusiaan atau lingkungan. Juga gambarkan mengapa sangat penting bagi konsumen untuk mendukung perusahaan yang memiliki idealisme, dan tidak semata-mata berbisnis,” ujar Razi.
Menurut Razi Thalib, kini sudah saatnya para pengguna media digital di Indonesia mengoptimalkan teknologi ini dalam berbagai aspek kehidupan. Tidak lagi sekadar sebagai pemakai, namun juga menggunakannya sebagai media untuk mengedukasi masyarakat, merubah cara berpikir, memberikan solusi, serta mendorong mereka ke arah perubahan yang lebih baik.

Memanfaatkan Teknologi Digital untuk Meningkatkan Kualitas Hidup


Rasanya tidak berlebihan jika Razi Thalib, pendiri agensi digital bernama Bridges & Balloons Digital Agency (BBDA), menyatakan bahwa nyaris tidak ada satu pun aspek kehidupan yang tidak tersentuh oleh sarana digital. “Mulai dari urusan kantor, rekreasi, kehidupan sosial, keluarga, pendidikan, bisnis, keuangan… apapun. Semuanya tak lepas dari penggunaan teknologi digital,” ujar Razi.
Bahkan urusan mencari jodoh atau pasangan pun dilakukan melalui teknologi digigtal. Razi yang melihat teknologi digital untuk mempermudah kehidupan manusian pun meluncurkan situs pencarian pasangan hidup Setipe.Com.

“Bayangkan jika tidak ada kamera digital, misalnya. Tentu sampai sekarang kita masih terus disibukkan dengan urusan cuci-cetak film di kamar gelap, lalu mengirim foto cetak melalui jasa pos yang makan waktu. Dengan teknologi digital, semua tahapan rumit itu dibuat menjadi mudah. Bahkan urusan editing foto sekalipun, bisa dilakukan secara digital. Kita bisa menghemat waktu dan menggunakannya untuk kegiatan produktif lainnya.”
Apalagi, saat ini, untuk memanfaatkan teknologi digital bisa dilakukan dengan cara mudah dan murah. Ya, barang-barang digital saat ini bukan lagi barang yang terlalu mewah. Dengan kemudahan dan 'kemurahan' yang melekat pada teknologi digital, artinya kesempatan untuk menggunakan media digital secara kreatif pun semakin terbuka lebar. “Kita bisa menciptakan ruang untuk saling berkomunikasi dengan lebih leluasa, lebih cepat, dan lebih berarti. Kita juga bisa menggunakannya untuk meningkatkan volume penjualan, merespon permintaan konsumen dengan lebih baik, dan juga untuk meningkatkan kesejahteraan hidup. Pendek kata, semakin masyarakat paham bagaimana memanfaatkan teknologi digital dengan cara yang tepat, maka peluang untuk meningkatkan kualitas hidup semakin besar,” kata Razi pada Indiscript Creative sebuah perusahaan personal branding agency

Hidup Semakin Mudah Berkat Teknologi Digital

Pernahkah Anda membayangkan hidup di zaman dulu, kembali lagi ke beberapa puluh tahun silam? Segala sesuatu saat itu serba manual. Dan kalaupun ada sarana digital, penggunaannya boleh dikata belum sedahsyat sekarang. Sekitar tahun 1980 hingga 1990-an, teknologi digital yang digunakan di Indonesia mungkin masih terbatas pada kalkulator, radio, televisi, dan komputer dengan pengguna yang sangat terbatas. Namun kini, penggunaannya semakin pesat, seiring dengan semakin meningkatnya laju perkembangan teknologi tersebut.
Razi Thalib, pendiri agensi digital bernama Bridges & Balloons Digital Agency (BBDA), mengatakan bahwa nyaris tidak ada satu pun aspek kehidupan yang tidak tersentuh oleh sarana digital. “Mulai dari urusan kantor, rekreasi, kehidupan sosial, keluarga, pendidikan, bisnis, keuangan… apapun. Semuanya tak lepas dari penggunaan teknologi digital,” ujarnya.
Pria yang baru saja meluncurkan situs pencarian pasangan hidup Setipe.Com ini mengatakan, bahwa sebenarnya teknologi digital tercipta untuk mempermudah segala urusan dalam hidup manusia. “Bayangkan jika tidak ada kamera digital, misalnya. Tentu sampai sekarang kita masih terus disibukkan dengan urusan cuci-cetak film di kamar gelap, lalu mengirim foto cetak melalui jasa pos yang makan waktu. Dengan teknologi digital, semua tahapan rumit itu dibuat menjadi mudah. Bahkan urusan editing foto sekalipun, bisa dilakukan secara digital. Kita bisa menghemat waktu dan menggunakannya untuk kegiatan produktif lainnya.”
Kenyamanan yang ditawarkan oleh teknologi digital, kini semakin mudah didapatkan berkat harganya yang kian hari kian terjangkau. Komputer bukan lagi barang yang terlalu mewah. Demikian pula cellphone, internet, televisi, sekarang bisa dibeli dengan mudah. Setiap orang bisa membuat akun jejaring sosial kapan saja.
Kemudahan tersebut juga berimbas pada semakin terbukanya kesempatan untuk menggunakan media digital secara kreatif. “Kita bisa menciptakan ruang untuk saling berkomunikasi dengan lebih leluasa, lebih cepat, dan lebih berarti. Kita juga bisa menggunakannya untuk meningkatkan volume penjualan, merespon permintaan konsumen dengan lebih baik, dan juga untuk meningkatkan kesejahteraan hidup. Pendek kata, semakin masyarakat paham bagaimana memanfaatkan teknologi digital dengan cara yang tepat, maka peluang untuk meningkatkan kualitas hidup semakin besar,” kata Razi.

Razi Thalib dan Dunia Digitalnya


Suasana di kedai Starbucks pagi itu sudah cukup ramai, meski saya datang terlalu pagi, setengah delapan pagi. Saya sedang menunggu seseorang sambil asyik dengan berbagai aktivitas menulis. Sekira jam sembilan, mata saya tertohok pada satu lelaki yang berjalan ke arah pintu masuk Starbucks. Saya sudah yakin pasti dialah yang saya tunggu. Razi Thalib, nama sosok itu, membalas senyum yang saya lempar untuknya, dan melangkah mendekati tempat saya duduk.

Sejenak kemudian, lelaki muda itu mulai berbagi cerita, tentang dirinya yang baru tiga tahun tinggal di Indonesia, setelah sebelumnya sukses berkarir di luar negeri. Ia banyak membagi pengalaman dan kecintaannya dalam bidang Digital Engagement. Razi Thalib adalah seorang konsultan dan pengusaha, dengan pengalaman tujuh tahun di industri media digital di Australia, khususnya untuk bidang Manajemen Produk, Strategi, dan Pemasaran. Razi memutuskan untuk kembali ke Indonesia, karena merasa negara tempatnya dilahirkan memiliki peluang besar untuk berkembang.

“Bidang Media Digital memiliki prospek sangat bagus di sini, dan saya ingin berbagi lebih banyak tentang pentingnya pemahaman media digital untuk membangun sebuah bisnis dalam jangka panjang,” ujar Razi pada Indiscript Creative. Pendiri dan pemilik Bridges and Balloons, sebuah agensi media digital di Jakarta, menyediakan sarana pendukung penuh, terutama bagi para pebisnis pemula. Dengan ditopang oleh sumber daya yang handal, agensi media digital ini membantu para pemilik bisnis untuk bisa mengembangkan bisnisnya secara positif melalui penggunaan teknologi digital.

Bagi Razi sendiri, pilihannya untuk menjadi entrepreneur diawali oleh keinginannya untuk intens dan fokus pada dunia digital. Setelah sukses membangun sistem media digital bagi Zalora Indonesia dan meningkatkan pertumbuhannya hingga 40% dalam waktu setahun, Razi mulai menoleh pada peluang untuk mengembangkan proyek-proyek yang menarik perhatiannya. “Saya ingin mengerjakan proyek-proyek yang saya senangi, dan mengembangkan sistem digitalnya agar bisa berkembang terus dalam jangka panjang,” ujar Razi yang dari ke hari personal brandingnya semakin menanjak melalui Indiscript Creative sebuah perusahaan personal branding agency

Sejumlah proyek yang sukses dia tangani antara lain adalah proyek pembuatan media digital bagi “Gerakan Indonesia Mengajar”. GIM adalah program untuk mengisi kebutuhan dalam dunia pendidikan, khususnya bagi anak-anak yang tinggal di pelosok yang tak terjangkau fasilitas sekolah dan guru yang memadai. Dengan dukungan sarana digital yang diciptakan oleh Razi, program ini semakin sukses dalam mengembangkan misinya untuk menyediakan materi pendidikan dan tenaga pengajar berkualitas tinggi bagi anak Indonesia.

Salah satu kiat Razi dalam mengembangkan sebuah bisnis melalui dukungan perangkat sistem digital, adalah dengan menggunakan konten yang rinci, namun sekaligus mudah dicerna dan menyenangkan. Konten yang disukai pelanggan, menurut Razi, adalah yang mampu menyajikan hal serius menjadi ringan dan menarik tanpa kehilangan esensinya. “Kalau kontennya fun, para pelanggan dengan senang hati akan share, twit, klik “Like”, join, komen, dan sebagainya. Termasuk tentu saja membeli produk dengan wajah penuh senyuman. Oh ya, saya juga sekarang sedang mengembangkan www.setipe.com, bagi Anda yang sedang mencari jodoh, bisa mengakses situs ini,” tutur Razi Thalib di akhir percakapan bersama Indiscript Creative yang bergerak di bidang Personal Branding Agency.

Picture taken from here. 

Membangun Industri Media Digital Bersama Razi Thalib


Tahukah Anda sosok di belakang layar yang telah menyukseskan Gerakan Indonesia Mengajar (GIM) melalui dunia digital? Dialah Razi Thalib. Seorang lelaki muda yang sudah berkarier selama tujuh tahun di dunia digital Australia. Razi bergabung dengan GIM pada Oktober 2010. Saat ini, Razi memimpin konseptualisasi, pengembangan dan implementasi sistem registrasi, website dan software operasi GIM.

Tidak hanya sampai di situ. Sepulang dari Australia pun, lelaki muda yang bergelar sarjana Teknologi Informasi dari Charles Sturt University, Australia pada tahun 2003 ini mendirikan sebuah agensi media digital di Jakarta yang bernama bridges and balloons. Di agensi media digital inilah Razi memadukan talenta terbaik industri digital lokal dan internasional. Dengan ditopang oleh sumber daya yang handal, agensi media digital ini membantu para pemilik bisnis untuk bisa mengembangkan bisnisnya secara positif ataupun melalui penggunaan teknologi digital.

Razi boleh saja baru tiga tahun kembali ke Indonesia, akan tetapi keinginannya untuk menjadi entrepreneur patut diacungi jempol.Tentu saja, keinginannya menjadi entreprenuer di bidang agensi media digital itu karena Razi intens dan fokus pada dunia digital. Tidak hanya sukses dengan GIM, Razi pun sukses membangun sistem untuk Zalora Indonesia. Bahkan, saat ini, Razi pun tengah mengembangkan www.setipe.com. Sebuah situs untuk Anda yang sedang mencari jodoh. Pencapaiannya di dunia digital ini pun berbuah manis karena namanya semakin dikenal sebagai personal branding yang oke seperti yang dikemukakan Indiscript Creative sebuah perusahaan Personal Branding Agency pertama di Indonesia.

Razi juga membagi kiat suksesnya dalam mengembangkan sebuah bisnis melalui dukungan perangkat sistem digital, yakni dengan menggunakan konten yang rinci, namun sekaligus mudah dicerna dan menyenangkan. Konten yang disukai pelanggan, menurut Razi, adalah yang mampu menyajikan hal serius menjadi ringan dan menarik tanpa kehilangan esensinya. “Kalau kontennya fun, para pelanggan dengan senang hati akan share, twit, klik “Like”, join, komen, dan sebagainya,"tutur Razi Thalib saat ditemui Indscript Creative.

Bagi pembaca yang ingin tahu lebih banyak tentang Razi Thalib, saya cuplikan beberapa artikel tentang Razi yah..

Razi kembali ke Indonesia setelah 7 tahun berkarir di industri media digital Australia. Ia berpengalaman memimpin pengembangan produk2 digital dari pematangan ide sampai peluncuran dan pemasaran.

Sepulangnya ke Jakarta ia mendirikan maskapai konsultasi bernama bridges and balloons yang digunakannya untuk berkolaborasi dengan talenta terbaik industri digital lokal dan internasional. Ia meyakini pentingnya pendidikan dalam mengangkat ekspektasi pengguna untuk meningkatkan kompetisi dan mendorong layanan produk lokal yang berstandar global.

Razi bergabung dengan Gerakan Indonesia Mengajar pada bulan Oktober 2010 dan saat ini memimpin konseptualisasi, pengembangan dan implementasi sistem registrasi, website dan software operasi GIM.

Razi mendapatkan gelar sarjana Teknologi Informasi dari Charles Sturt University, Australia pada tahun 2003.
Cuplikan lainnya..

Dirinya baru tiga tahun tinggal di Indonesia, setelah sebelumnya sukses berkarir di luar negeri di bidang Digital Engagement. Ia adalah seorang konsultan dan pengusaha, dengan pengalaman tujuh tahun di industri media digital di Australia, khususnya untuk bidang Manajemen Produk, Strategi, dan Pemasaran.
Pendiri dan pemilik “Bridges and Balloons”, sebuah agensi media digital di Jakarta, menyediakan sarana pendukung penuh, terutama bagi para pebisnis pemula. Dengan ditopang oleh sumber daya yang handal, agensi media digital ini membantu para pemilik bisnis untuk bisa mengembangkan bisnisnya secara positif melalui penggunaan teknologi digital. Pilihannya untuk menjadi entrepreneur diawali oleh keinginannya untuk intens dan fokus pada dunia digital.

(Sumber:http://www.indscriptcreative.com/klien/personal-branding-agency/razi-thalib/)

Picture taken from here.

Ketika Harga Bawang Naik.. Plis, Jangan Impor!


Beberapa hari terakhir ini  banyak kalangan yang dihebohkan dengan harga duo bawang; bawang putih dan bawang merah. Harga dua komoditas ini terus meroket dari hari ke hari. Tapi saya tidak ingin menyinggung soal bawang putih karena tidak tahu seluk beluk penjualannya. Saya hanya ingin membahas si bawang merah.

Minggu lalu, sekitar awal Maret 2013, harga bawang merah di tingkat produsen (petani) masih berkisar Rp15 ribu sampai Rp20 ribu per kg. Dengan harga segitu, petani sudah bahagia luar biasa. Gembira tak terkira. Betapa tidak? Lebih dari dua tahun harga bawang merah selalu di bawah rata-rata dan teramat jauh dari harapan para petani. Tiba-tiba saja, awal Maret 2013 harganya melambung bak balon udara. Siapa tidak gembira? Tapi berapa banyak petani yang gembira? Tentu, tidak semua petani. Karena tidak semua petani panen, tidak semua petani menanam bawang merah..

Gagal panen karena banjir dan hama, ditambah dengan harga yang selalu merosot selama dua tahun lebih telah menyusutkan semangat petani, memupus harapan petani, hingga nyaris putus asa. Hanya petani yang benar-benar menggantungkan hidupnya pada bawang merah sajalah yang masih bertahan. Atau petani yang masih memiliki modal sajalah yang mampu untuk menanam kembali, meski berulang kali 'jatuh'.

Dua tahun lebih, harga bawang merah tidak sampai Rp10 ribu per kg di tingkat petani. "Kalaupun ada, itu adalah bawang merang yang kualitas bagus. Yang besar-besar," begitu tutur ibu saya. Bahkan pernah, ibu saya menjual bawang merah dengan harga Rp3.000 per kg! Satu kuintal cuma dapat uang Rp300 ribu. Percaya tidak percaya, tapi begitulah faktanya.
Apakah pemerintah tahu soal ini? Apakah konsumen di luar Brebes mengerti kondisi ini?
Karena kondisi inilah banyak petani yang beralih minat. Mereka tidak lagi menanam bawang merah, tapi padi. Ya, setidaknya padi bisa dijadikan nasi. Kalau bawang merah? Disimpan lama-lama pun hanya akan membusuk tak ada manfaatnya.

Dengan meroketnya harga bawang merah, pedagang dan konsumen berteriak, pemerintah berupaya mencari solusi, dan pada akhirnya.. muara dari semua ini adalah akan ada yang mengiming-imingi untuk kembali mengimpor bawang merah dari luar negeri. Dengan dalih petani tidak konsisten, petani dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan yang ada, petani belum.... Betapa oh betapa...
Pemberhentian impor bawang merah ini bukannya baru saja? Tidak bisakah membiarkan petani bahagia barang dua-tiga bulan untuk menikmati harga setelah dua tahun lebih dilanda duka nestapa?? Tidak bisakah menunggu stabilisasi harga bawang merah di panen berikutnya yang hanya butuh waktu tidak sampai dua bulan? Apakah harus selalu impor dan impor lagi??
Kalau demikian adanya, bisa jadi, dua tahun dari sekarang harga bawang merah di tingkat petani akan kembali ke asalnya.. Yakni, hanya Rp3.000 per kg!!
 

Cerita Kita Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea